Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

Kiai Bejo Kiai Untung Kiai Hoki Melalui tulisannya ini kita akan melihat sosok Cak Nun yang dekat dengan berbagai lapisan masyarakat Hal ini tentu saja beralasan karena Cak Nun selama lebih tahun berkeliling Nusantara untuk ber

  • Title: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
  • Author: Emha Ainun Nadjib
  • ISBN: 9789797093112
  • Page: 377
  • Format: Paperback
  • Melalui tulisannya ini, kita akan melihat sosok Cak Nun yang dekat dengan berbagai lapisan masyarakat Hal ini tentu saja beralasan, karena Cak Nun selama lebih 20 tahun berkeliling Nusantara untuk berjumpa dengan berbagai forum rakyat dan segmen sosial Seperti golongan politik, etnik, dan agama Berjumpa dengan buruh pencuri kayu hutan, pelacur, kumpulan preman aktif, kaMelalui tulisannya ini, kita akan melihat sosok Cak Nun yang dekat dengan berbagai lapisan masyarakat Hal ini tentu saja beralasan, karena Cak Nun selama lebih 20 tahun berkeliling Nusantara untuk berjumpa dengan berbagai forum rakyat dan segmen sosial Seperti golongan politik, etnik, dan agama Berjumpa dengan buruh pencuri kayu hutan, pelacur, kumpulan preman aktif, kaum buruh, santri, mahasiswa.Pengalamannya ini tercermin melalui tulisannya yang bernada bijak dalam memandang berbagai persoalan Seperti masalah TKI, santri teror, jihad, bencana di Indonesia, disintegrasi sosial, Aceh, termasuk masalah Inul Ngebor Daratista.

    • ☆ Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki || ☆ PDF Read by ☆ Emha Ainun Nadjib
      377 Emha Ainun Nadjib
    • thumbnail Title: ☆ Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki || ☆ PDF Read by ☆ Emha Ainun Nadjib
      Posted by:Emha Ainun Nadjib
      Published :2019-07-10T01:46:20+00:00

    About “Emha Ainun Nadjib

    • Emha Ainun Nadjib

      Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata rata 10 15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung Di samping itu, secara rutin bulanan bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai nilai, pola pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi solusi masalah masyarakat.Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah Dakwah yang utama bukan dengan kata kata, melainkan dengan perilaku Orang yang berbuat baik sudah berdakwah, katanya.Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah Itu hanya bentuk pelayanan Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal, ujarnya.Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya Ada apa dengan pluralisme katanya Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar, ujar Emha Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda Kita harus menghargai itu semua, tutur budayawan intelektual itu.

    228 thoughts on “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

    • "Kebudayaan kita instan. Mi-nya instan. Lagunya instan. Maunya masuk sorga juga instan. Kalau bisa,dapat uang banyak langsung, ndak usah kerja ndak apa-apa. Kalau perlu ndak usah ada Indonesia ndak apa-apa, ndak usah ada Nabi dan Tuhan juga ndak apa-apa, asal saya punya duit banyak"Membaca buku ini menjadi perkenalan pertamaku dengan tulisan Cak Nun ini.Tidak mengecewakan sama sekali. Inspiratif sekali.Topik-topik yang dibahas beragam (ada beberapa kutipan artikel-artikel Cak Nun yang pernah ter [...]


    • Tulisannya khas. Menggelitik.Merged review:Tulisan Cak Nun selalu menarik. Tak lantas mengikuti arus, Cak Nun lebih suka membuka jalur sendiri, memandang dari lubangnya sendiri. Dan tentu saja, tanpa bermaksud menggurui. Keren!!


    • Sang Kyai Mbeling muncul kembali. Setelah kumpulan esay Markesot dan Opless di awal tahun 90-an, dalam bukunya kali ini Emha masih mengangkat kritik sosial seputar budaya, politik, dan pemerintahan juga masalah kemasyarakatan lainnya.Saya menyukai gaya bahasa renyah namun sarat makna khas Emha.


    • kumpulan tulisan cak nun, dulu waktu kuliah sering aku mendengarkan kajiannya di komunitas padang mbulan, cukup mencerahkan walau kadang kata2nya cuman menentramkan jiwa ttp tdk menyelesaikan masalah










    • Bagaimana jika ternyata rakyat itu tidak perlu pemerintah? Bagaimana jika rakyatlah sebenarnya yang harus memerintah. Tapi ketika seorang rakyat menjadi pemerintah, ia sudah bukan lagi rakyat. Ia telah menjadi "pemerintah" yang tak lagi sepandangan dengan rakyat. Lewat buku ini, Cak Nun menggarap kado untuk segenap orang di Indonesia. Kado-kado ini ia istimewakan dan ia kumpulkan menjadi sebuah bacaan yang menggugah.


    • Sangat bagus.Buku ini merupakan buku kedua Cak Nun yang saya baca setelah Slilit Sang Kiai. Namun saya juga mengenalnya melalui tulisan di website Cak Nun serta ceramah-ceramahnya yang bisa dengan mudah ditemukan di Youtube.Di buku ini masih akan dijumpai karakter Cak Nun yang sejuk, penengah, sekaligus pecicilan; atau neko-neko dalam bahasa Indonesia.Namun di tulisan yang berjudul Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki, saya sebagai pembaca menemui sisi yang berbeda dari Cak Nun yang selama ini saya [...]


    • ini buku tulisan Emha Ainun Nadjib yang pertama kali saya punya dan saya baca. Saat pertama kali membacanya saya tidak langsung paham dan mengerti. Dulu ketika SMA otak saya dodol. Setelah saya baca kedua kalinya, saya baru jatuh cinta pada tulisan Emha.Emha sangat cerdas melakukan akrobat kata. Kalimat dan kata yang ia tulis ajaib, seringkali indah. Gaya menulisnya seru dan menjadi petualangan bahasa yang asyik.Emha pernah berkata, apa yang ia tulis adalah hal yang sudah selesai. Tulisannya dok [...]


    • ini merupakan kumpulan tulisan dari Emha di media massa/Kompas. satu tulisan yang paling saya suka, " Gunung Jangan Pula Meletus" yang kebetulan tulisan pernah saya baca di harian Kompas, pada saat media massa tengah banyak menulis tulisan tentang gempabumi dan tsunami yang melanda Aceh, Desember 2004.buku ini masih kalah bagus dari Slilit Sang Kyai.


    • through this book, u will learn hw unique,brittle n patience our society. u will find laugh at yourself though;D


    • Tulisan Cak Nun selalu mempunyai "Jalannya" sendiri sehingga mampu membuat "arusnya" sendiri. kreatif dan apa ada nya.





    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *